Moral dan Etika Politik Kristiani

Bagi sebagian masyarakat, anggapan politik merupakan arena yang kotor, masih tetap berlaku. Anggapan yang sudah berkarat itu, tidak muncul dengan sendirinya. Salah satu penyebab adalah mazhab keagamaan yang sedemikian tajam memisahkan antara surgawi dengan duniawi, rohani dengan ragawi, atau yang suci dengan profan. 

Dalam paham ini, hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan atau agama sama sekali tidak bisa dipertautkan atau bersentuhan dengan kejumudan duniawi, profan, atau ragawi. Agama dan Tuhan dilepas dari dunia. Kehidupan asketis atau pertapaan tanpa batas dilakukan. Penyebab lain adalah realitas politik, yang menampilkan wajah seram, serbaabu-abu, dipenuhi kepentingan dan sikap menerabas. Korupsi yang merajalela dan penghalalan segala cara untuk kepentingan merasuk ke dalam benak banyak orang. 

Kedua penyebab itu mesti dihilangkan dengan penjelasan dan pencerahan terhadap kalangan yang terpenjara dengan pendapat negatif atas politik. Sebab, hal-hal kotor tidak hanya terjadi di arena politik, tetapi juga di seluruh arena kehidupan. Demikian juga dengan politisi, yang harus menampakkan bobot moral dan etika dalam berpolitik. 

Etika merupakan pelajaran sistematis mengenai persoalan-persoalan yang paling utama dan terutama dari tindakan manusia. Di dalamnya, terkandung hal yang bersifat universal, yang membedakannya dengan sopan santun yang kebanyakan bersifat lokal. 

Ada dua kata kunci yang perlu dan tidak dapat dilepaskan dalam upaya memahami etika, yakni karakter dan kebiasaan. Karakter sulit dirumuskan, namun dapat dipahami berdasarkan elemen-elemen di dalamnya, yakni: insting, emosi, sentimen, dorongan atau gerak hati, impulse, keinginan atau nafsu. 

Dalam kedua kata di atas, termaktub pelbagai pengertian dan perumusan mengenai etika. Jika pengertiannya lebih menekankan pada tingkah laku manusia, maka akan dikatakan etika adalah pengetahuan mengenai perilaku (Emil Bruner: The Divine of Imperative, 1947, hal 83). Jika kecenderungannya pada nilai-nilai yang membentuk kepribadian (karakter), maka etika akan disebut sebagai ajaran menyangkut karakter manusia. 

Tidak berbeda dari pengertian di atas, Jongeneel, salah satu pakar etika, merumuskan bahwa etika adalah ajaran yang baik dan yang buruk dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Hal itu lebih diperluas Niebuhr yang mengatakan, bukan hanya soal baik dan buruk, tetapi menyangkut persoalan benar dan salah. Apa yang baik dalam semua tindakan baik, apa yang buruk di dalam semua tindakan yang salah dan jahat, apa yang benar dan apa yang membuat tindakan yang benar itu benar, apa yang salah dan apa yang membuat tindakan itu salah, dan mengapa yang benar ditemukan dalam apa yang baik? 

Menjadi Kebiasaan

Etika senantiasa berangkat dari satu anggapan baik dan bermanfaat dilakukan. Suatu tindakan yang diyakini baik, bermanfaat bagi keseluruhan, harus dilakukan berulang-ulang untuk menjadi kebiasaan. Itulah sesungguhnya yang disebut etika. Di sinilah peran moral menjadi signifikan. Moral berupaya keras mewujudkan alasan hati manusia. 

Perkataan politik dari kata Yunani, po’lis, yang diartikan kota. Dalam perkembangan berikutnya kota-kota memperluas diri atau menyatukan diri dan kemudian disebut negara. Sebagai ilmu, politik merupakan analisis tentang pemerintahan, proses-proses di dalamnya, bentuk-bentuk organisasi, lembaga-lembaga, dan tujuannya (William Ebenstein, Political Science, 1972 hal 309). Dalam bentuk yang lebih operasional, politik merupakan pembuatan keputusan yang dilakukan masyarakat; suatu pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan-kebijakan publik (Joice &William Mitchel, Political Analysis and Public Policy, 1969 hal 4).

Arena politik juga sangat potensial bagi manipulasi, pemalsuan persepsi, dan persembunyian kepentingan sesaat kalangan-kalangan penyesat yang dikuasai kerakusan dan ketamakan. Hal itu bukan sesuatu yang baru. Alkitab Perjanjian Lama dipenuhi parodi, ironi, dan tragedi politik yang meluluhlantakkan kemanusiaan. Kita dapat melihat Imam Betel, bernama Amazia, yang tanpa sadar menjadi alat pengaman politik Raja Yorebeam. Pada saat itu, situasi politik dipenuhi suasana aman dan tenteram yang palsu, damai yang semu, dan keadilan yang menjadi kepahitan. Nabi Amos, yang hendak memberikan pesan moral dan etis kepada bangsa itu, langsung dihantam dan diusir Imam Amazia. Bahkan, laporan palsu dibuatkan untuk Raja Yerobeam: “Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya (Amos 7:10). 

Pengudusan politik adalah pesan khusus Alkitab yang sangat diabaikan, bahkan sangat mungkin tidak dimengerti banyak pihak. Padahal, pengudusan politik itu sangat jelas dan terbuka. Saat terjadi perseteruan politik antara kelompok yang menghendaki adanya raja Saul dan kelompok penentang yang dimotori Nabi Samuel, Allah sertamerta menguduskan kuasa dan takhta itu, dengan suatu legitimasi: Roh Tuhan berkuasa atasnya (I Sam. 10:10). Sama halnya ketika sebagian pengikut Kristus di Roma mengalami persekusi, dengan tegas Alkitab memberikan legitimasi pengudusan: tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah (Roma 13:1).

Pemaknaan kudus itu seringkali salah kaprah diartikan. Kudus, dari bahasa Ibrani, kadosy, harus diartikan sebagai berbeda, lain dari yang lain. Pembacaan secara Alkitabiah adalah bahwa segala hal di dalam politik harus mengacu pada tujuan-tujuan Allah. Bila dikatakan Roh Tuhan berkuasa atasnya, maka kekuasaan politik itu tidak menjadi dirinya sendiri, apalagi untuk kepentingannya. Demikian juga dengan tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah, harus dikembalikan pada pemahaman menyangkut hakikat dan sifat dasar Allah. Allah itu Mahakasih, baik dan penyayang. Tidak akan mungkin suatu pemerintahan yang berasal dari-Nya, bersifat dan bersikap jahat, diktator, dan menghisap rakyat. 

Dalam konteks moral dan etika politik Alkitabiah, adalah keharusan bagi pengikut Kristus untuk membedakan hal itu dan sekaligus mengambil sikap tegas. Terhadap rezim politik yang menindas dan menghisap, orang Kristen harus yakin sepenuhnya, itu tidak berasal dari Allah dan Roh Allah tidak berkuasa atasnya. Konsekuensi moral dan etisnya adalah melawan dengan segala daya. 

Dalam konteks itulah sesungguhnya pernyataan Yesus: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21), harus dielaborasi secara bijak. Hak Raja adalah beroleh penghormatan dan memiliki kewenangan yang diberikan dari luar dirinya, baik itu berasal dari dewa, karena pewarisan atau persetujuan yang diberi rakyat. Kewenangan yang diberikan itu yang menjadi otoritas, kuasa, atau kekuatan untuk mengatur dan melaksanakan. Sementara, kewenangan Allah itu berasal dari dirinya sendiri, absolut, bukan dari siapa-siapa.

Memasuki muatan yang lebih dalam berkaitan dengan politik, Alkitab jelas dan tegas menekankan kesejahteraan. Usahakanlah kesejahteraan kota (baca: po’lis, politik) dan berdoalah untuk kota (po’lis, politik) itu (Yeremia 29:7). Dalam rangka operasionalisasi politik kesejahteraan itu, Tuhan memberikan standar moral dan etis bagi para politisi, baik dalam fungsinya sebagai legislator maupun judikator dan eksekutor: cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap (Kel. 18:21).

Dalam pemahaman demikian, gereja-gereja di Indonesia akan memberikan panduan yang bukan saja definitif dari keyakinan iman, prinsip-prinsip teologia, tetapi sungguh-sungguh dapat menuntun bangsa menuju negara kesejahteraan dan menjadi republik kebajikan. Dalam rangka itu, penguatan moral melalui mimbar-mimbar, katekisasi, dan unit-unitnya, juga akan menjadi moral dan etika gereja bagi bangsanya. Tinggallah kerangka lanjut berupa strategi, terutama untuk mempersembahkan putra-putri terbaiknya ke dalam khazanah politik di Indonesia, dengan prinsip dan tujuan moral dan etis yang pasti, memberikan kontribusi yang terbaik dan terindah, bukan untuk mengambil Indonesia untuk dirinya. Itulah gereja yang mempersembahkan diri, moral, dan etis. 

Saut Hamonangan Sirait, Pendeta HKBP, Ketua Umum DPP Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) – SuaraPembaruan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: