Natal Sebagai Pemberian

Secara umum, Natal diserukan sebagai peristiwa Immanuel: Allah menghadirkan diri-Nya di tengah manusia. Dan itu tampak dalam kelahiran putra-Nya, Yesus Kristus, di Bumi ini. Namun, seruan itu tidak tanpa kontradiksi.

Saat lahirnya, Yesus harus bersembunyi dari intaian Kaisar Agustus. Kaisar yang mendaku selaku pembawa damai itu (Pax Agustae) harus bekerja dengan tangan besi lewat para tentaranya, sementara Yesus yang dilarikan ke Betlehem dikatakan selaku raja damai, tetapi mengerjakannya bersama ”bala tentara surga”. Dan, pesan damai semesta pun ”hanya” dikumandangkan di antara para gembala di padang gurun sepi.

Tentu kontradiksi yang lain ialah tentang kelahiran tanpa persetubuhan, suatu kelahiran dari perawan Maria, peristiwa yang bisa dikatakan sebagai creatio ex nihilo. Di sini ada alusi pada kelahiran anak Abraham (Ishak) yang terberikan begitu saja, yang ”bahan-bahannya tak tersedia dan tak ada” (ex nihilo). Ia muncul dari mimpi lalu menerobos di tengah usia senja yang renta.

Maka, salah satu pesan terdalam Natal ialah tindakan Allah yang menghadirkan diri-Nya (Immanuel) itu adalah tindakan-Nya memberi dengan turah, tindakan yang mengejutkan dari yang Ultimate. Jika kisah penciptaan dunia dalam Alkitab pun diartikan sebagai momen creatio ex nihilo, sungguh cerita Natal adalah juga cerita bahwa ”pada mulanya yang ada ialah pemberian”.

Maka, Natal ialah tentang hidup manusia yang dilimpahi (saturated), hidup yang sejatinya dan intinya adalah a gift. Dan selanjutnya kita boleh tahu bahwa horizon hidup yang terbentang di hadapan kita ialah sebentuk kanvas keterberian.

Pertukaran ekonomi semata

Sudut pandang ini sungguh penting—ia segera menjadi kontradiktif—mengingat zaman ini melihat hidup ”pada mulanya” sebagai ihwal pertukaran ataupun transaksi. Homo economicus telah menjadi kesadaran diri yang utama, yang melahirkan sosok otonom yang terisolasi dan yang tidak bertanggung jawab kepada apa pun. Yang ia mau ialah menjual jasanya untuk mendapat balik obyek-obyek keuntungannya.

Manusia seperti ini akan mudah ”diambil” oleh industri budaya yang selalu menghasilkan obyek-obyek konsumsi baru untuk memenuhi hasrat manusia. Obyek-obyek itu seolah memberi pengakuan kepada manusia bahwa ia sukses dan mampu dalam transaksi hidup. Maka, manusia menganut ”pertukaran pasar bebas” dan ia pun amat bergantung pada instansi yang tampaknya mengakui keberadaannya tadi.

Di sini kita memang bicara soal pengaruh globalisasi yang secara mendasar terkait pasar ekonomis yang terbuka, tetapi terintegrasi. Pasar kecil menjadi bergantung pada pasar dunia. Jika terjadi krisis ekonomi, keperluan ”kecil” hidup kita sehari-hari pun menjadi bermasalah. Hidup menjadi rentan dan sehari-hari nasib kita begitu telanjang (brute-luck) dan tak stabil. Tampaknya situasi telanjang nan rentan telah menjadi ritme hidup dan kerja kini; dan bagi siapa saja yang lemah daya tukarnya, ia menjadi seonggok makhluk redundant dan biasanya akan pula diabaikan.

Untuk memproteksi diri, terhadap ketidakpastian dan kerentanan yang akut tadi, manusia membentengi diri dalam institusi-institusi yang fundamentalistik. Semakin mendalam kecemasan, semakin kuat cengkeraman institusi itu. Agama tentu menjadi salah satu benteng pertahanan yang terbentuk di sini, dan karena modusnya yang cenderung absolut, ia segera direngkuh dan cenderung membentuk roh totalitarian.

Menyitir Hannah Arendt, ruang privat pertahanan diri yang totalitarian dan primordial itu akan segera mengubah dirinya menjadi semacam monster sejarah.

Bersama untuk memberi

Tentu soal pertukaran komoditas itu sudah sedemikian lama dipercakapkan. Bahkan, Marcel Mauss (dalam buku klasik The Gift) sudah secara deterministis menandaskan bahwa ikatan sosial akan selalu berisikan pemberian yang sejatinya ialah sebentuk pertukaran. Tidak ada yang gratis, tidak ada pemberian dalam sikap gratuitous, semua menuntut ”pengembalian”. Agaknya ini pula paradigma kapitalisme kita kini: perusahaan terbatas dibentuk agar ia hanya melihat benda yang langka sebatas komoditas. Malah, semua ihwal hidup hendak diserapnya dan dipertalikan dalam langgam bisnis seperti ini.

Kontradiksi Natal kiranya memberi pilihan bahwa ruang kegembiraan bersama di mana pemberian menjadi yang utama masih bisa tercipta. Ada yang menyatukan antara yang memberi dan yang menerima, yaitu Pemberian Asali, yang datang melimpah dan turah pada manusia. Maka, pertemuan memberi menjadi pertemuan sukacita. Kalaupun kita perlu menerima (menuntut) sesuatu in return, kiranya horizon kita ialah ke arah ”God who sees in secret, rewards in secret” (kata Jacques Derrida). Kerahasiaan tadi tidak pernah kita bisa pastikan, tetapi ia balik memanggil kita untuk melepas dan berbagi. Maka, yang terjadi ialah sebentuk pertukaran sukacita (mengutip Martin Luther).

Berbagai persekutuan dalam masyarakat (termasuk agama atau ecclesia/gereja) sebenarnya bisa terbangun dalam dasar pemberian tadi. Ia bukan sebentuk proteksi privat yang fundamentalistik, bukan pula sebentuk agensi pasar. Ia bisa memulai memberi dan menemui individu-individu di negeri ini yang sudah sedemikian terabaikan, yang hampir tak bisa ”membayar” apa pun, dan kalau terlambat mereka akan teronggok sendiri.

Martin Lukito Sinaga Pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: