Negeri Tak (Lagi) Bergigi?

Hari-hari ini sudah sepantasnya kita berang terhadap negeri tetangga. Pasalnya, tari Pendhet yang sejak dulu dipandang sebagai salah satu ungkapan dan produk seni kita tiba-tiba saja didaku sebagai milik negeri itu.

Rasa berang itu tentu amat beralasan. Tidak hanya karena bagi kita tari Pendhet nyaris identik dengan Bali, tetapi juga karena bukan pertama kalinya negeri itu mendaku berbagai produk seni dan budaya kita, dari batik hingga lagu dan alat musik tradisional.

Bahkan, ada pulau yang menurut kita merupakan bagian negeri ini telah diklaim sebagai miliknya. Kita tidak tahu apa lagi milik kita yang akan diklaim sebagai milik mereka. Tidak hanya rasa berang, berbagai protes dan langkah diplomasi yang telah dilakukan perlu terus lanjutkan.

Pada saat yang sama, sepantasnya jika hari-hari ini kita sejenak bertanya kepada diri sendiri: mengapa negeri yang penduduknya hanya seperdelapan dari penduduk Indonesia itu ”berani-beraninya” melakukan aneka tindakan demikian terhadap kita? Mengapa hal ini dilakukan untuk kesekian kalinya? Ada banyak kemungkinan jawaban.

Salah satunya, jangan-jangan sekarang ini negeri itu (dan siapa tahu sejumlah negeri lain) sedang memandang kita bagai seekor harimau yang gagah dan berseri-seri namun tak lagi punya gigi. Jangan-jangan mereka berpendapat, sang harimau itu boleh saja mengaum dan menyeringai, tetapi tidak akan pernah mampu menggigit sehingga tak perlu ditakuti. Lebih dari itu, jangan-jangan sejumlah bangsa lain sebenarnya sedang tak tertarik untuk secara tulus menganggap pentingnya peran dan posisi kita di dunia internasional.

”Go to hell”

Padahal, tidak selamanya kita dipandang seperti itu. Beberapa dekade lalu, bangsa ini pernah menjadi bangsa yang berwibawa, yang dianggap penting dan amat dihormati di antara bangsa-bangsa lain. Saat itu, oleh banyak negara, kita tidak hanya disegani laksana harimau perkasa yang bergigi lengkap dan tajam, tetapi juga dipandang sebagai pelopor di antara negara-negara yang baru saja bebas dari kolonialisme.

Kita ingat, misalnya, pada tahun 1955 kita menyelenggarakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung, banyak wakil bangsa lain datang dengan antusiasme amat tinggi. Kemudian Presiden Republik Indonesia memelopori dibentuknya Gerakan Nonblok. Banyak negara bergabung di dalamnya, bahkan sampai hari ini. Dengan bangga kita mengundang bangsa-bangsa yang baru merdeka untuk menggelar Games of the New Emerging Forces (Ganefo). Dengan bangga Indonesia mengajak bangsa-bangsa lain untuk membentuk Conference of the New Emerging Forces, disingkat Conefo, menandingi PBB yang mengakui berdirinya negara Malaysia.

Pada dekade 1950-an dan 1960-an, kita begitu dihormati sehingga meski sedang dalam ketegangan Perang Dingin yang luar biasa, pemimpin tertinggi Uni Soviet, Nikita Khrushchev, merasa perlu menghabiskan sebelas hari mengunjungi Indonesia. Tak mau ketinggalan, Presiden AS John Kennedy juga menyusun rencana datang ke Indonesia awal tahun 1964 meski akhirnya batal karena kematiannya.

Terhadap bangsa-bangsa lain yang telah lama merdeka, kita menolak bersikap rendah diri. Kita tak hanya berhasil menggagalkan upaya Belanda untuk menjajah kembali dengan dukungan Sekutu, saat itu kita juga berani menentang perusahaan-perusahaan asing yang ingin semaunya menanamkan modal di Indonesia. Bahkan, terhadap salah satu negeri adikuasa saat itu pun kita berani mengatakan ”Go to hell with your aid….” Persetan dengan bantuanmu! Saat itu, negeri ini benar-benar berani dan bergigi.

Lengkap dan tajam

Betapa bedanya keadaan kita kini. Bukan hanya lagu dan tarian yang satu per satu diklaim negara lain, sumber-sumber alam dan sumber daya manusia kita pun banyak yang ada di bawah kendali orang luar.

Baru-baru ini kita disadarkan, barang yang kita gunakan dan konsumsi sehari-hari ternyata sebagian besar merupakan hasil impor. Belum lagi jika benar jaringan terorisme yang membuat tewasnya para korban bom maupun orang-orang muda Indonesia berhasil dirayu menjadi kaki tangannya, ternyata didanai orang dari kawasan tertentu.

Itu semua mendorong kita bertanya, jangan-jangan kita sedang tidak dihormati oleh banyak kalangan di luar Tanah Air. Lebih dari itu, jangan-jangan kita ini sedang dilecehkan dan dimanfaatkan berbagai pihak untuk melayani kepentingan mereka sendiri, dari kepentingan ekonomi, budaya, politik, hingga radikalisme transnasional.

Jika itu benar, tampaknya tugas kita kini bukan hanya menyatakan rasa berang dan protes terhadap negeri jiran yang suka main klaim itu, tetapi juga berjuang agar bangsa ini kembali disegani bangsa-bangsa lain karena kepeloporannya.

Kita perlu tunjukkan kepada dunia bahwa bagai seekor harimau, kita tidak hanya gagah perkasa, tetapi juga bergigi lengkap dan tajam, siap menerkam setiap bentuk kesombongan, main klaim, terorisme antarnegara, dan setiap wujud ketidakadilan.

Baskara T Wardaya SJ Dosen Sejarah; Direktur Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep), Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta – KOMPAS

1 Comment

  1. itu khan romantisme masa lalu


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: