Obama, Hillary, dan Duet SBY-JK

Perkembangan politik berlangsung cepat dari isu ke isu, baik yang dirancang secara dini maupun dadakan, seperti, tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat dikeroyok demonstran. Pada 19 Januari, saya menulis bahwa Presiden Obama pasti serius memikirkan bagaimana tidak dikesankan memihak atau merestui capres RI yang sedang bersaing. Oleh karena itu, Obama pasti hanya bisa mengunjungi Indonesia setelah presiden terpilih hasil Pilpers 2009 dilantik 20 Oktober 2009. 

Minggu lalu, tentang manuver Jusuf Kalla yang melakukan road show ke Tokyo, Washington, Brussels, dan Amsterdam, JK ternyata tidak semeja dengan Presiden Obama dan juga tidak berpidato di Kongres, hanya di National Prayer Breakfast di Washington Hilton. Presiden Obama mengutus Menlu Hillary Clinton untuk mengunjungi Indonesia sebagai bagian dari lawatan pertama Menlu AS keempat negara di Asia Timur. 

Sejak hot line Clinton – Soeharto (1998). maka Presiden RI selalu memberikan prioritas kepada hubungan dengan AS secara istimewa. Ketika menjadi presiden, lawatan pertama Gus Dur adalah ke AS dengan dalih berobat mata, yang diawali dengan pengumuman Gus Dur sendiri di depan media massa di Singapura. Padahal, dia terlebih dulu menyatakan ingin membina poros Jakarta-Beijing sebagai arus utama politik luar negeri RI. 

Saya telah menulis bagaimana diplomasi akhir pekan yang melibatkan Paul Wolfowitz dan Richard Holbrooke , harus mengatasi kesulitan menyelipkan Presiden RI dalam acara Presiden AS hanya dalam waktu seminggu. 

Jusuf Kalla termasuk hoki, karena ketika bertemu dengan Deputi Menhan Paul Wolfowitz dalam posisi sebagai Menko Kesra, Juli 2003, menumbuhkan persepsi pemimpin Islam moderat yang setahun kemudian menjadi wapres berduet dengan SBY Perjalanan ke Washington bertemu Wapres Joe Biden kurang mencapai nilai tambah karena tidak sempat bersalaman secara intim, dekat dengan Presiden Obama. Over promosi berita media bahwa JK akan berpidato di depan Kongres ternyata pidato itu hanya bagian dari National Prayer Breakfast di Washington Hilton. Bukan pidato resmi di depan sidang gabungan Senat Kongres, seperti yang dilakukan Presiden Sukarno pada 1956. 

Skor Politik

Jusuf Kalla mencoba merenggut skor politik dengan menyatakan bahwa dalam pertemuan dengan Wapres Biden ia mendesak supaya Hillary juga mampir ke Indonesia dalam lawatan pertama Menlu AS itu ke wilayah Asia Timur. Memang, pada Jumat diumumkan bahwa Menlu Hillary akan berada di empat ibu kota Asia, mulai dari Tokyo 15-17 Februari, terus ke Jakarta 18-19 Februari, lalu ke Seoul 20-21Februari, dan ditutup dengan ke Beijing 22-23 Februari.

Secara pede, Wapres JK juga menyatakan bahwa RI tidak minta apa-apa dari AS, malah ingin menawarkan apa yang bisa Indonesia lakukan untuk membantu AS keluar dari krismon.

Konsumsi retorika bombastis untuk citra PR tentu harus diisi secara substansial dalam hubungan bilateral RI-AS, yang bermanfaat bagi Indonesia. Dalam proses merangkul Muslim global, Indonesia bisa diandalkan sebagai prototipe Islam moderat, plural, toleran, dan proaktif memperjuangkan perdamaian dunia untuk peningkatan kesejahteraan. Atau malah terbajak oleh elemen ekstremis, radikal, dan terkadang lebih Hamas dari Hamas. Jika Indonesia memang pluralis dan moderat maka mestinya orang seperti Gus Dur atau Juwono Sudarsono, Nono Makarim. Goenawan Mohamad, bisa dipercaya oleh Presiden Obama dan Menlu Hillary Clinton untuk dilibatkan dalam tim perdamaian Timur Tengah, yang bersifat multilateral.

Jika Indonesia bisa menerobos posisi ekstrem yang selama ini sangat kaku, anti-Israel, sehingga tidak mungkin berperan sebagai mediator, maka politik luar negeri Obama yang baru untuk mendamaikan Timur Tengah bisa dijadikan momentum untuk kemitraan strategis RI-AS mewujudkan cetak biru perdamaian Timur Tengah.

Thomas Friedman menulis tentang The-Five State Solution bahwa Tepi Barat dan Jalur Gaza segera dikelola oleh Jordan dan Mesir sebagai otoritas transisi menjelang penyatuan dalam Palestina yang demokratis dan tidak terjebak dalam kemelut perang saudara Hamas vs Fatah. Jordan dan Mesir memperoleh fee dari Arab Saudi dalam mengelola

dua wilayah selama masa transisi tiga tahun. Gagasan Friedman ini mengacu Rencana Perdamaian Raja Abdullah dari Arab Saudi . Di mana letak AS dalam the 5 state solution? Ya, hanya semacam godfather yang menjamin bahwa Israel tidak akan digusur ke laut oleh Palestina baru. Di mana letak RI dalam solusi itu? Tidak kelihatan, karena penjaga perdamaian dipercayakan kepada Jordan dan Mesir untuk Tepi Barat dan Gaza. Sementara itu poros Teheran – Hezbollah – Hamas, berada di luar keseimbangan lima negara tersebut, karena Mesir dan Arab mulai mencium aroma dominasi Persia yang ingin kembali pada kejayaan Cyrus dan Darius, imperium Persia yang pernah berjaya di Timur Tengah. 

Jusuf Kalla tidak memberikan resep kepada Biden, hanya menyatakan, AS harus menyelesaikan masalah Palestina untuk mengurangi tekanan kebencian terhadap AS yang dianggap “godfather-nya Israel”. Tampaknya, semua capres RI tidak mempunyai idé brilian sebagai terobosan. Semuanya dibelenggu dan didikte oleh sentimen massa primordial dan partisan. Secara sepihak sangat anti-Israel dan tidak memberikan peluang bagi RI menjadi penengah dan juru damai. Dengan sikap politik dogmatik kaku seperti itu, maka RI sebagai negara berpenduduk Islam terbesar kehilangan peluang untuk tampil sebagai kekuatan politik yang diperhitungkan dalam proses perdamaian Timur Tengah.

Konspirasi

Percaturan politik pilpres Indonesia memasuki babak yang penuh konspirasi, manipulasi, dan intrik perselingkuhan serta “kumpul kebo” politik yang membingungkan rakyat. Poros ini -itu diluncurkan mulai dari Ciganjur II, Poros Tengah II hingga Poros Indonesia Raya, semuanya mirip pesta dansa, orang gonta-ganti partner tanpa ewuh pakewuh. Tidak jelas lagi mana pasangan yang sudah “tunangan”, semua bagaikan “seks bebas”, gonta-ganti pacar tanpa prinsip. Akhirnya, memang akan merupakan pertarungan personalitas, kepribadian, dan citra, sedang kualitas, karakter, dan kapabilitas menjadi sekunder.

Dari Washington DC, Jusuf Kalla mengultimatum agar Sultan segera menentukan pilihan lewat Golkar atau lewat partai lain. Gayung bersambut, sebagian elite Golkar ganti mengultimatum JK agar segera memutuskan jadi capres atau tidak berani dan harus diputuskan 15 Februari 2009. Asal diketahui saja, 15 Februari 1958 adalah proklamasi PRRI yang memberontak terhadap pemerintahan Presiden Sukarno. Ini berdampak keluarga Sumitro Djojohadikusumo harus menjadi pelarian politik di luar negeri selama 10 tahun, termasuk Prabowo dalam usia remaja. 

Kini, Prabowo melenggang kangkung tanpa beban sejarah tragedi nasional Mei 1998. Begitu pula Wiranto, yang mungkin sekarang merasa akan direstui Obama, karena Direktur National Intelligence Center, Laksamana Blair, adalah Pangab AS di Pasifik 1998. Blair memuji Wiranto sebagai “demokrat”, yang mengantar transisi ke Habibie tanpa tergoda untuk mengkudeta dengan “Supersemar versi Mei 1998”.

Selama setengah tahun ke depan sampai September, kepada kita masih akan disuguhi drama komedi pilpres dengan pelbagai kekonyolan yang irasional. Semoga tidak terjerumus menjadi tragedi seperti insiden Ketua DPRD Sumut. 

Christianto Wibisono, pengamat masalah internasional dan nasional – SuaraPembaruan

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: