Pilpres Lewat “Pisowanan Ageng”?

Delapan puluh tahun peringatan Sumpah Pemuda, besok 28 Oktober, akan diwarnai “Pisowanan Ageng” dengan kehadiran 35 dari 118 mantan raja Nusantara dan massa dari seluruh Indonesia untuk mendaulat Sri Sultan Hamengku Buwono X menjadi capres 2009. KTT “raja-raja Nusantara” ini tentu merupakan satu antiklimaks dari 10 tahun reformasi dan demokrasi pilpres langsung.

Incumbent presiden baru saja pulang dari KTT ASEM-7 yang dihadiri oleh 45 negara Asia dan Eropa, yaitu mantan penguasa kolonial dan bekas koloni Eropa, yang sekarang berdiri setara. Bahkan, Presiden Uni Eropa Manuel Barosso dan Presiden Prancis Nicolas Sarkozy dengan nada memelas, memohon kerja sama dan peranan Asia (baca: Tiongkok) untuk membantu mengatasi krisis keuangan global.

KTT ASEM setuju “melakukan perombakan komprehensif dan efektif sistem finansial dan moneter internasional”. Agenda selanjutnya ialah KTT G-20 di Washington DC atas undangan Presiden Bush setelah desakan Uni Eropa ketika Baroso dan Sarkozy menemui Bush di Camp David pada 19 Oktober.

Beruntung Indonesia masuk dalam G-20, sebagai kelompok kerja pengarah program Bank Dunia/IMF.

KTT G-20 adalah suatu agenda darurat yang disiapkan hanya tiga minggu, karena urgensi mengatasi gelombang “tsunami” Wall Street seabad yang diakui oleh Alan Greenspan sebagai sesuatu yang di luar dugaan. Ia mengaku berdosa, Kamis (23/10), bahwa dia tidak mengira bankir bisa teledor mengorbankan kepentingan pemegang saham dan nasabah dengan permainan kasino yang menghancurkan gumpalan aset riil menjadi lembaran kertas tak berharga produk derivatif.

KTT ASEM -7 Beijing dan KTT APEC -14 di Lima, Peru, nyaris menjadi acara rutin dan ritual. Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tentu akan menjadi beban protokol untuk menyesuaikan agenda menghadiri KTT G-20 15 November diteruskan ke KTT APEC di Peru 22 November. KTT G-20 penting sebab akan melaksanakan reformasi struktur keuangan global, yang sudah lama didambakan oleh elite dunia. Struktur moneter global ditandai dengan sistem Bretton Woods I tahun 1944, di mana AS dan Eropa Barat menjadi penentu dominan. Struktur itu sebetulnya telah dirombak sepihak pada 1971 oleh AS, ketika Presiden Nixon menyatakan tidak akan memakai cadangan emas lagi untuk menukar mata uang dolar AS. Beban perang Vietnam menyebabkan defisit dan utang AS membengkak, karena itu Nixon mengejutkan dunia dengan langkah itu sambil melakukan terobosan membuka hubungan dengan Beijing.

Dua Kejutan

Bagi Jepang, ini merupakan dua kejutan Nixon Shokku, kata orang Jepang. Nixon Shokku berlangsung sekitar 14 tahun, ketika negara-negara anggota G-7 menyepakati aksi bersama yang dikenal sebagai Plaza Agreement, karena diteken di Hotel Plaza New York untuk proses floating yang berdampak revaluasi yen, karena kuatnya ekspor Jepang ke seluruh penjuru global. Tetap saja terjadi koreksi di bursa Wall Street dengan ambruknya saham pada Oktober 1987.

Kelemahan dan kemunduran sektor riil AS ditutupi dengan keunggulan dan keunikan sektor keuangan dan pertumbuhan sektor IT yang kemudian juga menghasilkan bubble karena over investment dan moral hazard dalam boom sektor IT. Semua ini masih ditutupi dengan windu keberhasilan administrasi Clinton yang dipuji-puji sebagai memberikan surplus.

Perkembangan geopolitik kebangkrutan ideologi komunisme melahirkan rasa “pede” bagi kemenangan mutlak ideologi kapitalisme liberal, seperti teori Fukuyama tentang the end of history. Tapi, mendadak kambuh ideologi ekstrem radikal dalam gebrakan Al Qaeda yang secara fisik menghancurkan dua simbol kapitalisme WTC. Secara publik opini, pembalasan AS terhadap aksi terror justru mengakibatkan kekalahan dan keterpurukan AS, yang kehilangan popularitas dan posisinya sebagai panutan, idola, dan model bagi masyarakat dunia.

Secara finansial, perang teror juga menambah beban dan neraca keterpurukan yang ditutupi dengan pelbagai manipulasi produk derivatif yang mencapai klimaksnya dan terbongkar tuntas September 2008.
Tanda-tanda zaman sudah dimulai sejak 2005, ketika krisis kredit macet rumah mulai menggejala, tapi masih dilindungi dan ditutupi oleh bankir yang sekarang ditelanjangi oleh Alan Greenspan. Tapi, Greenspan sendiri tidak pernah mewaspadai kemungkinan krisis terburuk hingga menjadi “tsunami” seabad seperti sekarang ini.

Di luar agenda Hillary Clinton, muncul Senator Obama, yang secara ajaib mengalahkan Clinton dan sekarang tidak terbendung oleh McCain dan Republik, yang sudah semakin panik dengan situasi krisis yang di luar dugaan. Faktor Obama akan menguji apakah AS benar-benar akan melakukan meritokrasi, siapa yang paling hebat prestasi dan kinerjanya, tanpa memedulikan warna kulit dan asal-usul, ras, dan etnis, dialah yang berhak menjadi presiden negara adidaya itu. Jika AS melewati ujian ini dengan sukses, maka AS berpeluang untuk pulih kembali kepemimpinan moral, nilai, dan tampil kembali sebagai idola negarawan global.

Manuver Politik

Indonesia sedang menghadapi pilpres yang penuh intrik dan manipulasi, di mana yang menonjol bukan adu meritokrasi, tapi adu manuver politik terselubung. Ada yang mengutak-ngatikkan sejarah masa lalu dengan mengaktifkan lagi panitia khusus (Pansus) yang dulu impoten.

Ada yang menguasai sistem rekrutmen capres dengan mekanisme struktur DPP partai, sehingga tidak memungkinkan munculnya seorang Obama mengalahkan Clinton. Sri Sultan Hamengku Buwono X sangat populer dan terfavorit, tapi Ketua Umum DPP Golkar, yang juga wapres incumbent tidak akan rela membiarkan Sultan muncul seperti Obama menyalip Clinton. Begitu pula incumbent presiden tidak rela disalip, kecuali bila Sultan hanya bersedia jadi wapres 2009

Meskipun posisi SBY juga tidak sepenuhnya aman, karena Partai Demokrat belum tentu akan mengulangi kisah sukses 2004 dan harus kerja keras bila ingin mencapai threshold agar bisa mencapreskan SBY.

Agenda 28 Oktober adalah ritual memperingati Sumpah Pemuda. Apakah Sultan akan menerima pencapresan oleh masyarakat atau mungkin masih berdiplomasi gaya Yogya, mencari timing yang lebih tepat. Tapi agenda 29 Oktober di mana DPR akan siap voting untuk menentukan threshold pencapresan akan mempengaruhi kans SBY maju sendiri jika duet SBY – JK pecah, atau jika Golkar memenangkan pilleg, jauh melebihi Demokrat.

Memperhatikan pergerakan tektonik geopolitik, saya merasa prihatin bahwa dalam pilpres ini Indonesia mirip negara yang memang tidak punya elite berwawasan global, karena semua capres hanya sibuk memanipulasi manuver untuk menang. Elite juga tidak pernah mempersoalkan kapabilitas profesional, intelektual, dan kenegarawanan seorang capres. Tapi, lebih mempersoalkan suku, elektabilitas, popularitas, kharisma, kultus, dan hal-hal yang sebetulnya tetek-bengek seperti umur, dan masa lalu. Tapi, tidak pernah membahas secara serius bahwa Indonesia memerlukan presiden yang memang ber- kinerja optimal, punya merit dan kapabilitas untuk memimpin Indonesia bangkit dari posisi medioker, kekuatan kepalang-tanggung yang tidak berdimensi global.

Kemandekan proses rekrutmen capres berdasarkan meritokrasi yang tidak terbajak oleh incumbent dan struktur partai, tidak memungkinkan tampilnya Sultan sebagai Obama. Seandainya “Pisowanan Ageng” 28 Oktober mencapreskan Sultan, struktur internal partai Golkar dan faktor incumbent merupakan tembok besar Tiongkok yang sulit diterobos.

Christianto Wibisono adalah pengamat masalah nasional dan internasional

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: