Resesi

Banyak simbol Natal menjadi benda hiasan saja, tanpa nada religius sama sekali: topi merah-putih, bintang, goa, kartu, dan sebagainya. Aneka dagangan itu jadi komoditas yang harganya naik-turun ikut resesi. Komoditas Natal membanjiri pasar Natal. Jadilah resesi Natal.

Ahli pemasaran memanfaatkan emosi Natal itu tanpa kaitan dengan religi: mirip dengan bunga, penutup kepala, ketupat, atau lilin misalnya.

Banyak produk pemikiran tertentu yang berbau-bau religi, sebenarnya adalah produk ekonomi atau politik; tidak bermutu religius. Itulah sebabnya seorang tokoh meminta rekannya tidak usah mengaitkan urusan golongan putih (golput) dengan agama.

Menjelang pemilihan umum memang banyak yang memakai ungkapan keagamaan demi politik. Begitulah minggu-minggu ini aksesori Natal juga ditawarkan sebagai pasangan Natal dengan nilai religius menipis.

Rekor pohon natal terbesar atau kue natal termanis menantang orang untuk memurnikan rasa baktinya. Perayaan Natal dengan band terhebat atau baju termahal dapat saja menyingkirkan Tuhan dan menggantikannya dengan kain atau kosmetik belaka.

Orang Kristiani beriman bahwa Tuhan merendahkan diri jadi manusia demi keselamatan manusia. Namun bahaya berhala menggantung di setiap pendewaan Natal yang membuat umat lupa berdoa dan lebih kerap mikir enaknya lumpia, sejuknya AC, atau merdu dan indahnya nyanyian paduan suara.

Bahaya itulah yang menyebabkan larangan mengucapkan nama Yahweh, membuat gambaran Allah, dan menduakan Tuhan. Manusia memang kerap tergoda oleh berhala yang berupa dirinya, pendapatnya yang seakan-akan itu semua Kehendak Tuhan.

Dari sanalah datangnya rasa gerah kalau kita jumpa kaum fundamentalis yang membantai sesamanya. Di situlah kita kritik aparat yang mencampurkan keputusan politis untuk menuduh rakyat menista agama: alat kekuasaan di atas keyakinan rohani.

Para pemuka agama ditantang untuk membawa suasana rohani mengatasi segala hiruk pikuk ritual dan kepentingan ekonomis serta kecerdikan politis.

Bilik hati terintim perlu dicermati. Di mana posisi Tuhan di samping selebriti di altar, mimbar, atau panggung pertunjukan yang sedikit dipoles dengan pujian dan doa-doa.

Dari sisi lain ada tantangan juga, bahwa sikap religius dapat hanya ada di hati tak terlahirkan dalam gatra. Aneka godaan pemujaan simbol itu lalu menyusutkan kebaktian jadi bentuk-bentuk esoterik.

Kerahasiaan itu pada ujungnya kerap membawa orang pada irrealisme, yang mudah sekali membawa dua sayap: ketidakjujuran dan kepalsuan.

Kegagalan kedua sayap itu dapat mendorong generasi muda apatis terhadap agama, membangkitkan sekularisme, agnostisisme, atau ateisme praktis. Resesi yang kini tengah terjadi diharapkan menjadi peluang kembalinya religiositas sejati.

BS Mardiatmadja Pemerhati Sosial – KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: