Setelah Setahun Gubernur Fauzi Bowo

Setahun lalu, pada 7 Oktober 2007, Fauzi Bowo dan Prijanto dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Jelas, posisi mereka, dibanding pimpinan provinsi lainnya, lebih menonjol, karena ibu kota Republik Indonesia berlokasi di Jakarta.

Kita masih ingat antusiasme masyarakat Jakarta dalam mendukung pimpinan yang baru ini. Bung Foke, sebutan akrab Fauzi Bowo, mulai bekerja di Balai Kota sejak 1970-an dan lambat laun memiliki jaringan sahabat yang cukup luas.

Sebagai “Anak Betawi” yang dapat mengklaim bahwa ia masih keturunan almarhum Moh. Thamrin (dikenang sebagai “Bapak” lapisan bawah masyarakat di Batavia/Betawi), Bung Foke adalah seorang pluralis. Oleh karena itu, kampanyenya dan komposisi para pendukungnya setahun lalu, amat menarik. Suatu bukti bahwa Pancasila masih merupakan kenyataan.

Namun, setahun setelah kampanye yang meriah dan pelantikan gubernur dan wakil gubernur baru yang menimbulkan banyak harapan itu, kita terpaksa mencatat bahwa suatu sikap seperti “tidak-acuh-lagi” mulai menyelinap di masyarakat Ibukota terhadap kepemimpinan Fauzi Bowo-Prijanto. Yang amat kecewa, tentu ada saja. Sikap mulai masa bodoh ini yang mengkhawatirkan, karena sukses kepemimpinan mereka bergantung juga pada kegairahan yang timbul dari masyarakat Ibukota.

Beberapa media melaporkan hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) tentang Aspirasi dan Persepsi Publik terhadap Visi, Misi dan Program Gubernur DKI Jakarta Satu Tahun Pertama. Survei ini dilakukan pada 25-30 September 2008, melibatkan 1.476 responden warga Ibukota yang tersebar di lima kota administrasi dan satu kabupaten administrasi, Kepulauan Seribu. Pertanyaan tentang “Tingkat Keyakinan kepada Fauzi Bowo – Prijanto”, yang mengatakan “Baik” 41,87%, “Buruk” 38,21%, dan “Tidak Tahu” 19,92%. Hasil survei manapun sulit dikatakan sempurna, apalagi masyarakat DKI Jakarta heterogen dan serba sibuk. Namun, bagi pengamat ini, hasil tersebut merupakan lampu kuning. Mengingat, antusiasme setahun lalu menyambut pasangan baru Gubernur Fauzi Bowo – Wakil Gubernur Prijanto, bahwa hampir 40% tidak segan-segan menilai kinerja mereka sebagai “Buruk” adalah meng-khawatirkan. Sudah dapat diduga, pasti ada “ganjalan”, entah di mana.

*

Dalam hubungan masalah tersebut, komentar Wardah Hafidz, yang memimpin sebuah LSM (Urban Poor Consortium-UPC) patut dicatat. Ia mengemukakan kepada harian The Jakarta Post: “Dulu harapan saya kepada Pak Fauzi cukup tinggi, karena orangnya bersikap terbuka dan suka berdialog. Saya keliru. Sekarang sulit menghubungi dia. Pagar birokrasi mengelilinginya.”

Dalam pandangan pengamat ini, tersumbatnya saluran-saluran komunikasi dan dialog antara Gubernur DKI Jakarta dan tokoh-tokoh informal dari berbagai kalangan merupakan “ganjalan” serius.

Kita mencatat, ada kecenderungan protokoler pada diri Pak Gub setelah setahun dilantik. Apakah memang perlu, umpamanya, ikut menunggu kedatangan Presiden atau Wakil Presiden ketika tiba dari perjalanan luar kota? Apakah perlu terlalu sering mendampingi mereka dalam acara-acara peresmian? Sekali-dua kali cukuplah.

Sebaliknya, Bung Foke sebagai Pak Gub perlu lebih sering dilihat di tengah masyarakat, ketika timbul kejadian penting, seperti macet total di beberapa lokasi Ibukota atau banjir yang melanda, baik perkampungan maupun perumahan kelas menengah.

Dari segi persepsi, amat menarik andaikata Pak Gub berdiri di pintu tol Jati Waringin mengucapkan “Selamat Mudik” kepada para warganya sambil berpesan, su- paya hati-hati.

Dengan demikian, citra sebagai “Bapak Masyarakat Jakarta” dapat dikembangkan. Itu sekaligus dapat menjadi sumber kekuatan politik andaikata ada programnya yang macet di DPRD. Komunikasikan langsung kepada masyarakat di mana hambatannya jika ada program pembangunan yang macet. Bahwa anggaran yang membiayai berbagai badan pemerintahan di lingkungan DKI macet setelah tahun anggaran berjalan setengah tahun, sungguh keterlaluan. Infrastruktur komunikasi di Jakarta cukup canggih dan komplet.

Dibandingkan dengan kepala daerah lainnya, Gubernur Fauzi Bowo beruntung dapat menikmati akses komunikasi yang begitu luas, asal dia pandai memanfaatkannya. Dan jangan segera menunjukkan suatu sikap bahwa dia toh lebih pintar dari si wartawan yang sok tahu itu. Mungkin ada benarnya, tapi tidak usah dicerminkan dengan ekspresi yang skeptik.

Sekarang ini, persepsi yang seperti menempel pada kepemimpinan Gubernur Fauzi adalah kasus digusurnya para penjual bunga dan ikan hias di Jalan Barito, Jakarta Selatan.

Para penjual bunga itu sudah berpuluh tahun berdagang di sana. Bahwa lokasi sekitarnya perlu dibersihkan, sehingga suatu taman yang menarik dapat dibangun dalam rangka pembenahan Jakarta, merupakan rencana yang rasional. Namun, apakah sudah dipersiapkan dengan matang?

Apakah lokasi alternatifnya dilengkapi dengan fasilitas yang mencukupi? Apakah dalam rangka program bantuan kepada pedagang kecil disediakan kredit lunak untuk membantu mereka memindahkan bisnis mereka? Apakah rencana pembangunan taman dan anggarannya sudah siap? Ternyata belum.

Kalau Anda lewat lokasi Jalan Barito itu, yang tampak adalah pagar seng yang mengelilinginya. Padahal, petugas Tramtib dulunya memaksa para pedagang bunga dan ikan hias itu supaya segera meninggalkan lokasi, seperti besoknya pembangunan taman akan dimulai. Jangan-jangan kita akan lihat di situ tiba-tiba berlangsung pemancangan tiang pondasi untuk pembangunan apartemen mewah!

*

Amat tergantung pada Bung Foke, apakah dia merenungkan pengalaman setahun lalu ini, mempelajari berbagai komentar sehubungan ulang tahun pertama dari kepemimpinannya sebagai gubernur DKI Jakarta dan bersedia melakukan adaptasi serta penyesuaian supaya kepemimpinannya lebih efektif.

Ia patut merasa beruntung mempunyai “Wagub” seperti Pak Prijanto. Orangnya tidak suka manggung dan mencuri perhatian publik yang dinikmati “Pak Gub”. Ia fokus ke dalam, membenahi aparat dan memantapkan disiplin kerja.

Kita semua sadar bahwa beban tugas Gubernur Jakarta sungguh berat. Berbagai undang-undang dan peraturan menghambat ruang geraknya. Justru karena itu, Bung Foke harus mengembangkan modal yang setahun lalu dimilikinya, yakni dukungan dan antusiasme masyarakat Jakarta terhadap dirinya.

Kartu itulah yang dapat dia manfaatkan, kalau perlu, dalam berurusan dengan Presiden, Wakil Presiden, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan. “Saya ini bertanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat Jakarta dan Anda-anda adalah bagian dari masyarakat ini”. Sikap tulus demikian yang kita nantikan dari Pak Gub, Bung Foke.

Sabam Siagian lahir di Jakarta dan tetap mengamati perkembangannya

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: