Tantangan Masa Depan Pangan

Tema internasional peringatan Hari Pangan Sedunia 16 Oktober 2008 yang ditetapkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) adalah ”World Food Security: the Challenges of Climate Change and Bio-Energy”.

Adapun tema nasional yang ditetapkan Pemerintah Indonesia adalah ”Ketahanan Pangan, Perubahan Iklim, Bioenergi, dan Kemandirian Petani”.

Saat ini, dunia sedang dilanda krisis pangan serius. Situasi ini, antara lain, disebabkan oleh naiknya permintaan komoditas pangan, pesatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara emerging countries, cepatnya pengembangan biofuel. Selain itu juga disebabkan turunnya pasokan komoditas pangan akibat pengaruh perubahan iklim, di antaranya banjir dan kekeringan. Saat ini dilaporkan kondisi stok sereal dunia hanya mencapai 409 juta ton, jumlah terendah sejak tiga dekade terakhir.

Banyak pakar menilai, kondisi krisis pangan dunia saat ini merupakan buah dari tindakan komunitas internasional yang mengabaikan sektor pertanian di negara-negara berkembang dalam jangka panjang. Statistik menunjukkan bantuan pertanian internasional tahun 1980 menempati porsi sebesar 17 persen, tetapi angka itu menurun menjadi hanya 3 persen pada tahun 2006. Investasi riset pertanian negara-negara berkembang kurang dari 0,6 persen produk domestik bruto (PDB), sedangkan di negara-negara Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan angkanya lebih dari 5,0 persen PDB.

Meroketnya harga minyak mentah dunia beberapa waktu lalu, langsung atau tidak langsung, menjadi pemicu terjadinya krisis pangan. Langkah revolusioner banyak ditempuh oleh negara-negara industri untuk meredam krisis bahan bakar fosil ini, antara lain, dengan melipatgandakan anggaran riset energi alternatif dan bioenergi berbahan baku komoditas pertanian.

Presiden George W Bush pernah menegaskan akan mengurangi ketergantungan pada minyak impor dari Timur Tengah hingga 75 persen pada tahun 2025. Untuk itu Bush mengalokasikan 22 persen dana lebih banyak untuk riset energi ramah lingkungan mulai tahun 2007.

Saat ini terjadi rebutan komoditas pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan dan bioenergi. Komoditas pertanian, seperti gandum, kedelai, jagung, beras, gula, dan minyak nabati, menjadi rebutan di pasar dunia sehingga harganya meroket. Kondisi ini merupakan bahasa lain dari terancamnya kondisi ketahanan pangan nasional yang masih menggantungkan pemenuhan pangan dari impor.

Bukan tragedi Yunani

Perubahan iklim global ikut andil menciptakan krisis pangan dunia. Laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan, turunnya produksi pangan serta meningkatnya banjir dan badai karena perubahan iklim akan makin mengancam Indonesia. Terdapat 80 persen kemungkinan (high convidence) untuk menyatakan perubahan suhu rata-rata yang terjadi akhir-akhir ini telah berdampak pada banyak sistem fisik dan biologis alam.

Antara tahun 1970-2004 di Indonesia terjadi kenaikan suhu rata-rata tahunan antara 0,2 hingga satu derajat Celsius yang dapat mengakibatkan penurunan produksi pangan hingga meningkatkan risiko bencana kelaparan, peningkatan kerusakan pesisir akibat banjir dan badai, peningkatan kasus gizi buruk, dan diare.

Kelompok paling rentan terkena dampak perubahan iklim ini adalah masyarakat miskin. Kelompok ini memiliki kemampuan adaptasi amat rendah akibat minimnya sumber daya yang dimiliki serta kecenderungan bergantung pada sumber daya yang rentan terhadap kondisi iklim.

Mau tidak mau, suka tidak suka, semua pemangku kepentingan harus segera mengakhiri kondisi tidak menguntungkan ini. Untuk menghadapi berbagai tantangan itu ada beberapa hal yang harus ditempuh Pemerintah Indonesia. Pertama, secepatnya menyusun regulasi yang mengatur sinergi antara kebutuhan pangan dan bioenergi. Regulasi ini dimaksudkan agar tidak terjadi benturan kepentingan yang membahayakan ketahanan pangan bangsa.

Kedua, menyusun kebijakan dan instrumen untuk direkomendasikan dalam usaha mitigasi perubahan iklim. Menurut IPCC peluang mengurangi gas rumah kaca masih terbuka melalui gaya hidup dan konsumsi. Kebijakan dan instrumen yang direkomendasikan harus mencakup semua sendi kehidupan, antara lain sektor energi, transportasi, gedung, industri, pertanian, kehutanan, dan manajemen limbah.

Sektor energi, antara lain, dengan mengurangi subsidi bahan bakar fosil, pajak karbon untuk bahan bakar fosil, penetapan harga listrik dari energi terbarukan (renewable energy), kewajiban menggunakan energi terbarukan, subsidi bagi produsen. Sektor transportasi, antara lain, wajib menggunakan biofuel, standar karbon dioksida untuk alat transportasi jalan raya, kenaikan pajak pembelian kendaraan, merancang transportasi melalui regulasi penggunaan lahan dan perencanaan infrastruktur, investasi pada fasilitas angkutan umum, dan transpor tak bermotor.

Untuk sektor gedung, antara lain, perlu menerapkan standar dan label peralatan, sertifikasi, dan regulasi gedung. Sektor industri perlu ada regulasi tentang subsidi, penerapan standar industri, pajak untuk kredit. Untuk sektor pertanian perlu insentif finansial dan regulasi untuk perbaikan manajemen lahan, mempertahankan kandungan karbon dalam tanah, penggunaan pupuk dan irigasi yang efisien.

Sektor kehutanan, perlu diciptakan insentif finansial untuk gerakan reboisasi, mengurangi penggundulan hutan, regulasi pemanfaatan lahan serta upaya penegakan regulasi itu. Sektor manajemen limbah, dilakukan dengan memberi insentif finansial untuk manajemen sampah dan limbah cair yang lebih baik, insentif menggunakan energi terbarukan, serta regulasi manajemen limbah.

Hanya dengan political will yang kuat kita dapat terhindar dari situasi yang lebih buruk sebagaimana ditegaskan Dirjen FAO, Jacques Diouf. ”Krisis pangan ini bukan tragedi Yunani, di mana nasib ditentukan oleh Dewa karena manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Dunia memiliki kemampuan untuk memengaruhi masa depan.”

Toto Subandriyo Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal, Jateng

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: