Ujian Pertama Presiden Terpilih Obama

Meskipun belum ada pengumuman resmi, bentuk kabinet presiden terpilih Obama sudah mulai kelihatan. Dia akan memilih tokoh-tokoh yang pintar, berpengalaman sebagai politisi atau pejabat, serta—dan inilah hal yang paling penting—bersifat pragmatis, bukan ideologis.

Begitulah kesan kuat saya setelah membaca sejumlah nama yang sudah dikonfirmasi secara informal oleh staf presiden terpilih. Misalnya, Senator Hillary Clinton sebagai menteri luar negeri, Timothy Geithner (kini presiden Bank Federal Cadangan di New York) sebagai menteri keuangan, Eric Holder (deputi jaksa agung di bawah Presiden Bill Clinton) sebagai jaksa agung, dan Gubernur New Mexico Bill Richardson (dulu wakil tetap pemerintahan Clinton di PBB) sebagai menteri perdagangan.

Tidak mengejutkan

Nama-nama itu sama sekali tidak mengejutkan sebab, selama kampanye dulu, calon presiden Barack Obama menegaskan berkali-kali bahwa dia ingin memerintah dari tengah, bukan dari kiri. Namun, Obama dikecam habis-habisan oleh pers kanan, khususnya para kolumnis koran terkemuka Wall Street Journal, yang berkoar bahwa Obama ingin mendirikan sebuah pemerintahan ”sosialis”.

Ternyata ada kesenjangan politik yang dalam sekali antara sayap kiri dan kanan yang tidak mudah dijembatani oleh siapa pun, termasuk seorang presiden muda dan karismatis.

Misalnya, George Newman, seorang pebisnis pensiunan, meramalkan bahwa Departemen Tenaga Kerja bakal dipimpin oleh ”bos militan” yang akan menghapuskan unsur kerahasiaan dalam keputusan kolektif serikat buruh. Industri farmasi pun akan lumpuh setelah Menteri Kesehatan Hillary Clinton (tak terbayangkan oleh Newman bahwa Clinton bakal terpilih sebagai menlu!) memutuskan harga obat tak boleh lebih dari 10 persen di atas ongkos produksi. Obama akan menciptakan Department of Equal Opportunity for Women (Departemen Kesetaraan Hak- hak Perempuan).

Buntutnya, semua pengusaha akan dipaksa membuktikan setiap tahun bahwa mereka tidak melakukan diskriminasi. Lebih berat lagi, ekonomi kami akan dibebani lima juta green job, program-program ramah-lingkungan, yang akan disubsidi oleh ”Tsar Energi”, Al Gore.

Kolumnis lain, Kimberley Strassel, anggota staf redaksi Wall Street Journal, menuduh Partai Demokrat, partainya Obama, dikuasai gerakan buruh yang ”sedang bangkit kembali”. Di tengah situasi krisis keuangan yang merundung ekonomi Amerika, pemerintahan Demokrat terdorong menciptakan agenda baru yang ”murni antipasar”. Arthur Laffer, pencipta utama kebijakan ekonomi Presiden Ronald Reagan pada tahun 1980-an, waswas memprediksi bahwa the age of prosperity is over (zaman kemakmuran tamatlah sudah).

Anggota staf redaksi Wall Street Journal lainnya, Daniel Henninger, tak kurang pesimistis. Bagi dia, pemilihan presiden tahun ini bersifat historis dalam pengertian yang sebenarnya. Menurut Henninger, Obama akan membangun sebuah sistem ekonomi proteksionis yang tak mungkin dibongkar kembali oleh presiden-presiden berikutnya.

Mengejutkan

Beberapa kolumnis bahkan mengaitkan analisis ekonomi mereka dengan masalah-masalah lain dalam politik Amerika secara mengejutkan. Newman, misalnya, meramalkan Obama akan mengangkat seorang Afrika-Amerika radikal sebagai jaksa agung, yang lantas akan memperjuangkan program pampasan senilai satu triliun dollar bagi orang Amerika keturunan budak.

Analisis Henninger lain lagi. Menurut Henninger, posisi Amerika sebagai negara dengan perekonomian paling maju di dunia berhubungan erat dengan kedudukannya sebagai negara adidaya. Ia khawatir, Obama akan mengurangi anggaran militer nasional dalam rangka menciptakan sebuah welfare state, negara kemakmuran, ala Eropa.

Yang paling mengejutkan adalah komentar Fouad Ajami, seorang intelektual neokonservatif yang ikut mengarsiteki perang Bush di Irak. Ajami mengaku prihatin dengan ”kumpulan massa” yang berharap terlalu banyak dari seorang ”orator berdaya magis”.

Ajami yang dibesarkan di Lebanon teringat pada Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser yang telah ”mematahkan hati beberapa generasi orang Arab”. Kesimpulannya: jangan-jangan tradisi Arab street, kerumunan massa Arab yang menakutkan, mulai berkembang di Amerika di bawah pemerintahan Obama.

Ketika membaca kolom-kolom ini, saya tidak tahu apakah harus ketawa atau menangis. Kebijakan-kebijakan Obama yang sebenarnya hampir tak pernah dimunculkan. Sejak awal kampanyenya dua tahun lalu, Obama berkali-kali menegaskan bahwa dia adalah seorang yang sentris dan pragmatis.

Dengan pengangkatan anggota-anggota kabinetnya, presiden terpilih Obama sudah mulai membuktikan hal ini dengan perbuatan nyata. Namun, saya merasa pesimistis bahwa cita-citanya demi penyatuan bangsa akan tercapai. Kesenjangan antara sayap kiri dan kanan, setidak-tidaknya yang tecermin dalam kolom-kolom Wall Street Journal, ternyata masih dalam sekali di Amerika.

R William Liddle Profesor Ilmu Politik, Ohio State University, Columbus, Ohio, AS

KOMPAS

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: