Usia Pensiun PNS

Setelah ramai-ramai membicarakan usia pensiun hakim agung dan diwarnai pro dan kontra, kembali muncul wacana usia pensiun PNS secara umum.

Usia pensiun PNS diusulkan dinaikkan dari 56 tahun menjadi 58 tahun. Alasannya, usia harapan hidup orang Indonesia naik menjadi sekitar 62 tahun. Logikanya, seharusnya usia pensiun juga dinaikkan.

Alasan berikutnya yang lebih penting tentu efisiensi. Menambah usia pensiun pegawai negeri senior yang sudah menguasai berbagai keahlian pasti lebih menghemat keuangan negara daripada merekrut pegawai baru yang “belum tahu apa-apa.”

Meski demikian, dengan bertambahnya jumlah PNS yang tua maka pemerintah tidak boleh tidak harus merekrut tenaga baru agar jalinan kerja yang ada tak terputus. PNS senior dapat menularkan keahliannya kepada PNS yunior sebelum angkat kaki dari meja kerjanya.

Variasi usia pensiun

Harus diketahui, kini usia pensiun PNS amat bervariasi. Ayah saya yang Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kodya Malang (kini Kadiknas) pensiun tahun 1967 pada usia 55 tahun, dengan pangkat setara golongan III sekarang.

Perubahan lain diterapkan pada usia pensiun guru, yakni 60 tahun. Dengan jatah pengangkatan yang terbatas, kebijakan ini amat menguntungkan negara. Dosen yang menduduki golongan IV berhak pensiun usia 65 tahun, sedangkan guru besar bisa mengajukan perpanjangan usia pensiun sampai usia 70 tahun.

Namun, dengan keluarnya peraturan Mendiknas Desember 2005, hanya guru besar yang bergelar doktor yang boleh mengajukan usia perpanjangan pensiun. Yang lain, meski bergelar MA dari luar negeri, harus pensiun. Sementara itu, mereka yang mengajukan perpanjangan beberapa bulan sebelumnya bisa langsung pensiun di usia 70 tahun.

Yang bakal menjadi korban adalah Prof Jakob Sumardjo yang aktif menulis di Kompas dan Prof Sardono W Kusumo Rektor IKJ. Mereka beberapa tahun lebih muda dari saya, amat berprestasi, tetapi (kalau tak salah) tak mengantongi gelar doktor. Ketua Jurusan Linguistics and Modern English Language Lancaster University Prof Chris Chandlin tidak mengantongi gelar doktor. Sekretaris Jurusan Mike Breen yang hanya bergelar MA membimbing disertasi doktor mahasiswanya, sama dengan Prof Drs Ramelan yang tetap membimbing disertasi doktor.

Usia atau fasilitas?

Dengan membicarakan perpanjangan usia pensiun, seolah pensiunan PNS di Indonesia boleh bernapas lega. Benarkah demikian? Coba kita perhatikan. Pelayanan terbagus mungkin hanya Askes, yang bisa digunakan sampai PNS meninggal dunia, juga untuk istri/suami yang menjadi janda/dudanya.

Kita lihat di negara tetangga, Singapura. Seorang teman saya yang guru SMP, dan istrinya guru SD, semula tinggal di tingkat 25 sebuah flat, meski luas bangunan yang dihuninya lebih dari 100 meter persegi. Tiap bulan ia ”hanya” menerima gaji 50 persen, tetapi cukup untuk biaya hidup dengan mobil bagus. Sekarang mereka bahagia sudah boleh turun ke atas tanah dan mendapat rumah dan kebun bunga.

Prof Asim Gunarwan pernah mengajar di RELC Singapura, tinggal di flat RELC karena gajinya juga diterimakan 50 persen. Ketika pulang ke Jakarta, dia mampu membeli rumah di kawasan Rawamangun. Mungkinkah program Taperum berbuat seperti ini?

Lain lagi dengan Pak Boedihardjo, bekas tahanan politik Soeharto yang berhasil dibebaskan oleh istrinya, orang Inggris. Meski tidak lama bekerja di Inggris sebagai warganegara, begitu usia 60 tahun, dia langsung menjadi senior citizen. Sebagai senior citizen, dia boleh menempuh kuliah dengan SPP sebesar satu pound (biaya normal sampai ribuan pound). Dia bisa memperoleh fasilitas tiket kereta api murah dan sejumlah fasilitas menguntungkan lain, seperti tiket khusus ke museum. Jika sakit dan obat yang diresepkan dokter tak ada dalam daftar obat gratis, dia hanya harus bayar satu pound.

Pensiunan PNS kita benar-benar menjadi “askar tak berguna”. Selama menjadi PNS sengsara, saat pensiun lebih sengsara. Saat saya kabari bahwa saya pensiun, teman-teman saya di luar negeri memberi ucapan selamat. Mungkin mereka mengira saya akan menikmati masa pensiun dengan melancong bebas ke sana kemari. Padahal saya malah bekerja lebih keras sebagai penulis.

Sunaryono Basuki Ks Sastrawan; Pensiunan Guru Besar IKIP Negeri Singaraja

KOMPAS

1 Comment

  1. Interesting, but usual =)


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: