Watak Niaga TNI

Membebaskan TNI dari watak niaganya merupakan bagian integral agenda besar reformasi sektor keamanan Indonesia. Ini bukan agenda baru dan merupakan agenda tak terselesaikan dalam dua gelombang reformasi, bahkan transformasi TNI sejak kelahirannya.

Pada era revolusi, konsolidasi TNI sebagai satu kesatuan komando melalui rasionalisasi dan peleburan keseluruhan laskar menandai berakhirnya proses transformasi tahap pertama. TNI modern yang menjadi kekuatan yang disegani di Asia Pasifik hingga pertengahan tahun 1960-an dibangun di atas prestasi awal ini.

Hanya saja, fase ini gagal menyentuh watak niaga TNI. Pelarangan secara individual anggota TNI—termasuk Polri dan PNS—terlibat bisnis (PP No 6/1974) tidak menoreh jejak kesuksesan. Di era keemasan TNI sebagai kekuatan multifungsi ini, watak niaga TNI kian mengental. Lebih lagi, alasan bagi bertahan dan meluasnya bisnis TNI menemukan momentum: kegagalan negara dalam menyediakan anggaran yang memadai bagi kepentingan pertahanan. Alasan ini berkembang di dunia ketiga dan ada dalam genggaman militer. Karena itu, kelangkaan dukungan finansial dicurigai sebagai raut persekongkolan rezim militer membenarkan keterlibatan tentara dalam bisnis.

Fase kedua reformasi TNI menyusul tumbangnya Soeharto memunculkan pola hampir sama. Tap MPR VI dan VII tahun 2000 secara legal-politis berhasil membebaskan TNI dari watak politik-ideologisnya. Diikuti rangkaian tindakan nyata reformasi internal, kedua dokumen politik ini meletakkan dasar baru pembangunan TNI profesional. Pada saat sama, prestasi ini membantu proses transisi demokrasi sebagai agenda kolektif bangsa. Namun, watak niaga TNI sebagai target penyelesaian politik hampir tak tersentuh. Sebuah kebetulan politik memaksa kelahiran Pasal 76 UU TNI Tahun 2004 di mana pembebasan TNI dari watak niaganya disepakati untuk dituntaskan dalam waktu lima tahun setelah UU itu diberlakukan. Ini membawa kita ke pertanyaan serius, mengapa begitu sulitnya menuntaskan pekerjaan ini?

Implikasi dan kisah sukses

Boleh jadi jawabannya pada akar keterlibatan militer dalam bisnis. Akar ideologisnya dapat dilacak pada ide total war Ludendorff tahun 1922. Ide ini adalah hasil evaluasi kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I. Kealpaan dukungan politik dan sumber daya nasional diamini sebagai sebab pokok kegagalan. Hal ini menjustifikasi penempatan seluruh sumber daya nasional di bawah kontrol tentara bagi tujuan memenangi perang. Sesuatu yang dengan cepat menyebar ke dunia ketiga, terutama Amerika Latin.

Di Indonesia, ide ini paralel dengan konsep perang semesta. Konsep yang mengandaikan tunduknya semua sumber daya nasional bagi tujuan memenangi perang. Karena Orba—lewat penciptaan musuh imajiner dari kalangan bangsa sendiri—mendefinisikan Indonesia ada dalam ”perang permanen”, logika memenangi perang lewat kontrol seluruh sumber daya nasional menjadi pembenar keterlibatan TNI dalam bisnis secara permanen pula.

Akar historis keterlibatan militer dalam bisnis dapat ditemukan dalam pengalaman China (akhir 1930-an dan awal 1940-an). Tentara Pembebasan Rakyat saat masih bermarkas di Yanan harus mendapat sumber pembiayaan sendiri. Ini mengharuskan mereka menjadi bagian aktif dunia bisnis. Hal sama ditemukan dalam pengalaman TNI era revolusi. Satuan-satuan tentara lokal harus menemukan sumber pembiayaan sendiri. Akibatnya, TNI bukan saja aktif, tetapi fasih berbisnis.

Kefasihan TNI dalam memenuhi kebutuhan sendiri menjadi insentif negatif bagi otoritas politik dan TNI. Di pihak otoritas sipil, politik pengabaian melalui penempatan anggaran militer pada skala prioritas rendah menjadi hukum normal. Sementara bagi tentara, kelangkaan anggaran diamini sebagai ”izin” untuk lebih jauh mengarungi dunia bisnis.

Namun, kini bermunculan kisah baru. Pencapaian demokrasi sebagai ukuran peradaban politik berisiko gagal sejauh watak niaga tentara tak terselesaikan. Demokrasi mensyaratkan supremasi sipil atas institusi militer. Ini sulit dicapai jika militer menggenggam otonomi, bahkan independensi dalam hal pembiayaan. Penegakan otoritas sipil di negara demokratis mendemonstrasikan sentralitas pembiayaan sebagai instrumen utama. Dalam kerangka ini, reformasi TNI melalui pengakhiran watak niaganya sama krusialnya dengan pengakhiran watak politik-ideologis TNI.

Namun, hal itu baru separuh jawaban. Separuh lainnya terletak pada profesionalisme TNI. Jika rasion d’etre kehadiran dan terminal sejarah pengabdian TNI diyakini untuk melindungi tumpah darah Indonesia, maka pilihan satu-satunya adalah menjadi tentara profesional. Tidak dalam pengertian simplistis sebagai tentara yang hidup karena profesinya. Namun, sebagai kekuatan yang kapabel dalam core compentence-nya: memenangi perang atas nama Indonesia. Syaratnya sederhana, biarkan TNI memiliki waktu cukup membangun kekuatan dan keahlian tanpa diinterupsi kewajiban mengurusi bisnis.

China telah membuktikan kebenaran tesis itu: tentara China tumbuh sebagai kekuatan yang disegani dan dihormati di kancah global pertama-tama dan terutama karena keberanian dan kesuksesannya dalam menyudahi watak niaga tentaranya.

Renungan 63 Tahun TNI

Jika pencapaian tujuan ganda demokrasi dan TNI profesional bagi Indonesia disepakati, pengakhiran bisnis TNI menjadi keniscayaan. Dasar legal-politis untuk itu telah tersedia. Tenggat realisasi Pasal 76 UU TNI tinggal setahun. Sementara tanda-tanda yang menjanjikan masih samar.

Namun, menimbang akar keterlibatan, implikasi yang ditimbulkan, dan prestasi yang diletakkan negara yang mampu membebaskan tentara dari watak niaganya, sebuah penyelesaian sekarang juga menjadi pilihan paling masuk akal. Yang diperlukan: keputusan presiden. Persoalan selebihnya akan melewati tahapan pembiasaan dan akan mencapai titik perjalanannya seiring berlalunya waktu. Kita sudah belajar, membiarkan sekali lagi agenda ini menjadi beban generasi berikut, tidak akan membawa bangsa ini ke mana- mana. Mungkinkah pembebasan TNI dari watak niaga akan menjadi kado TNI di usia ke-63? Dirgahayu TNI.

Cornelis Lay Jurusan Ilmu Pemerintahan UGM

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Unknown Feed

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • “B A K A N C I N G”

  • %d bloggers like this: