Masjid di Manhattan, Gereja di Bekasi

Sementara nasib tempat ibadah jemaat gereja Huria Kristen Batak Protestan di Pondok Indah Timur, Bekasi, Indonesia, masih belum menentu, mendadak terdengar berita dari nun jauh di Gedung Putih, Washington DC, AS.

Presiden AS Barack Obama pada makan malam bersama masyarakat Muslim merayakan bulan suci Ramadhan lantang menegaskan dukungan atas rencana pembangunan pusat Islam dan masjid di dekat kawasan selatan pulau Manhattan, Kota New York, yang tersohor dengan sebutan Ground Zero, tempat dua gedung World Trade Centre sempat menjulang tinggi mencakar langit sebelum dihancurleburkan serangan terorisme 11/9/2001. Continue reading

Advertisements

Mengapa Syekh Puji Bebas?

Pujiono Cahyo Widianto alias Syekh Puji, 43 tahun, bisa bernapas lega, setidaknya untuk sementara waktu. Pada putusan sela di Pengadilan Negeri Semarang, Selasa pekan lalu, majelis hakim membebaskannya dari segala dakwaan. Karena itu, lelaki yang sehari-hari mengenakan jubah putih dan berkalung tasbih itu dinyatakan bebas demi hukum. Continue reading

Akhir Zaman

Ketika bencana alam silih-berganti menyambangi satu demi satu bagian negeri kita, tidak sedikit orang yang mengaitkannya dengan akhir zaman. Demikian pula ketika tingkat kriminalitas terus menanjak di berbagai penjuru negeri (bahkan di seantero dunia), pembicaraan bertemakan akhir zaman semakin deras mengemuka. Dan, ketika perang dalam berbagai kategori melanda sini dan sana, bisa kita tebak dengan mudah, urusan akhir zaman jelas tidak mau ketinggalan untuk diikutsertakan. Continue reading

Perajam

INI sebuah cerita yang telah lama beredar, sebuah kisah yang termasyhur dalam Injil, yang dimulai di sebuah pagi di pelataran Baitullah, ketika Yesus duduk mengajar.
Orang-orang mendengarkan. Tiba-tiba guru Taurat dan orang Farisi datang. Mereka membawa seorang perempuan yang langsung mereka paksa berdiri di tengah orang banyak.
Perempuan itu tertangkap basah berzina, kata mereka. ”Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian dengan batu,” kata para pemimpin Yahudi itu pula. Mereka tampak mengetahui hukum itu, tapi toh mereka bertanya: ”Apa yang harus kami lakukan?”
Bagi Yohanes, yang mencatat kejadian ini, guru Taurat dan orang Farisi itu memang berniat ”menjebak” Yesus. Mereka ingin agar sosok yang mereka panggil ”Guru” itu (mungkin dengan cemooh?) mengucapkan sesuatu yang salah.
Saya seorang muslim, bukan penafsir Injil. Saya hanya mengira-ngira latar belakang kejadian ini: para pakar Taurat dan kaum Farisi agaknya curiga, Yesus telah mengajarkan sikap beragama yang keliru. Diduga bahwa ia tak mempedulikan hukum yang tercantum di Kitab Suci; bukankah ia berani melanggar larangan bekerja di ladang di hari Sabbath? Mungkin telah mereka dengar, bagi Yesus iman tak bisa diatur pakar hukum. Beriman adalah menghayati hidup yang terus-menerus diciptakan Tuhan dan dirawat dengan cinta-kasih.
Tapi bagi para pemimpin Yahudi itu sikap meremehkan hukum Taurat tak bisa dibiarkan. Terutama di mata kaum Farisi yang, di antara kelompok penganut Yudaisme lain, paling gigih ingin memurnikan hidup sehari-hari dengan menjaga konsistensi akidah.
Maka pagi itu mereka ingin ”menjebak” Yesus.
Tapi Yesus tak menjawab. Ia hanya membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jari-jarinya di tanah. Dan ketika ”pemimpin Yahudi itu terus-menerus bertanya,” demikian menurut Yohanes, Yesus pun berdiri. Ia berkata, ”Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis di tanah.
Suasana mendadak senyap. Tak ada yang bertindak. Tak seorang pun siap melemparkan batu, memulai rajam itu. Bahkan ”satu demi satu orang-orang itu pergi, didahului oleh yang tertua.” Akhirnya di sana tinggal Yesus dan perempuan yang dituduh pezina itu, kepada siapa ia berkata: ”Aku pun tak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Tak ada rajam. Tak ada hukuman. Kejadian pagi itu kemudian jadi tauladan: menghukum habis-habisan seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa; sebaliknya empati, uluran hati, dan pengampunan adalah laku yang transformatif.
Tapi bagi saya yang lebih menarik adalah momen ketika Yesus membungkuk dan menuliskan sesuatu dengan jarinya ke atas tanah. Apa yang digoreskannya?
Tak ada yang tahu. Saya hanya mengkhayalkan: itu sebuah isyarat. Jika dengan jarinya Yesus menuliskan sejumlah huruf pada pasir, ia hendak menunjukkan bahwa pada tiap konstruksi harfiah niscaya ada elemen yang tak menetap. Kata-kata—juga dalam hukum Taurat—tak pernah lepas dari bumi, meskipun bukan dibentuk oleh bumi. Kata-kata disusun oleh tubuh (”jari-jari”), meskipun bukan perpanjangan tubuh. Pasir itu akan diinjak para pejalan: di atas permukaan bumi, memang akan selalu melintas makna, tapi ada yang niscaya berubah atau hilang dari makna itu.
Di pelataran Bait itu, Yesus memang tampak tak menampik ketentuan Taurat. Ia tak meniadakan sanksi rajam itu. Tapi secara radikal ia ubah hukum jadi sebuah unsur dalam pengalaman, jadi satu bagian dari hidup orang per orang di sebuah saat di sebuah tempat. Hukum tak lagi dituliskan untuk siapa saja, di mana saja, kapan saja. Ketika Yesus berbicara ”barangsiapa di antara kamu yang tak berdosa”, hukum serta-merta bersentuhan dengan ”siapa”, bukan ”apa”—dengan jiwa, hasrat, ingatan tiap orang yang hadir di pelataran Bait di pagi itu.
Para calon perajam itu bukan lagi mesin pendukung akidah. Mendadak mereka melihat diri masing-masing. Aku sendiri tak sepenuhnya cocok dengan hukum Allah. Aku sebuah situasi kompleks yang terbentuk oleh perkalian yang simpang-siur. Kemarin apa saja yang kulakukan? Nanti apa pula?
Dan di saat itu juga, si tertuduh bukan lagi hanya satu eksemplar dari ”perempuan-perempuan yang demikian”. Ia satu sosok, wajah, dan riwayat yang singular, tak terbandingkan—dan sebab itu tak terumuskan. Ia kisah yang kemarin tak ada, besok tak terulang, dan kini tak sepenuhnya kumengerti. Siapa gerangan namanya, kenapa ia sampai didakwa?
Perempuan itu, juga tiap orang yang hadir di pelataran itu, adalah nasib yang datang entah dari mana dan entah akan ke mana. Chairil Anwar benar: ”Nasib adalah kesunyian masing-masing”.
Dalam esainya tentang kejadian di pelataran Baitullah itu, René Girard—yang menganggap mimesis begitu penting dalam hidup manusia—menunjukkan satu adegan yang menarik: setelah terhenyak mendengar kata-kata Yesus itu, ”satu demi satu orang-orang itu pergi….” Pada saat itulah, dorongan mimesis—hasrat manusia menirukan yang dilakukan dan diperoleh orang lain—berhenti sebagai faktor yang menguasai perilaku. Dari kancah orang ramai itu muncul individu, orang seorang. ”Teks Injil itu,” kata Girard, ”dapat dibaca hampir secara alegoris tentang munculnya ke-person-an yang sejati dari gerombolan yang primordial.”
Tapi kepada siapakah sebenarnya agama berbicara: kepada tiap person dalam kesunyian masing-masing? Atau kepada ”gerombolan”? Saya tak tahu. Di pelataran itu Yesus membungkuk, membisu, hanya mengguratkan jarinya. Ketika ia berdiri, ia berkata ke arah orang banyak. Tapi sepotong kalimat itu tak berteriak.
Goenawan Mohamad

Ini sebuah cerita yang telah lama beredar, sebuah kisah yang termasyhur dalam Injil, yang dimulai di sebuah pagi di pelataran Baitullah, ketika Yesus duduk mengajar. Continue reading

Sebuah Tantangan pada Hari Anak

maya-soetorong-pictureSiti berusia 16 tahun, tetapi kesan yang muncul, ia lebih tua. Saya bertemu dengan Siti setelah lulus SMA. Dia baru saja kembali dari Jakarta untuk merawat ibunya yang sakit. Ibunya bekerja mengurus rumah tempat kami berlibur, di tengah kebun teh.

Rambut keriting Siti adalah warisan ibunya, yang berasal dari Ambon, sedangkan dari bentuk tubuh serta wajah, Siti seperti alter ego saya sehingga saya ingin tahu tentang hidupnya. Continue reading

God’s amazing creation: Michael Jackson

In memoriam Michael Jackson “The King of Pop”

michael-jacksonSeandainya Michael Jackson tahu, ratusan juta manusia terhibur olehnya, tulus mengaguminya
Seandainya ia tahu, ia telah memberi semangat hidup kepada banyak orang,
Memberi insipirasi dan memulihkan hati yang patah

Seandainya ia tahu kepergiannya menyentak ratusan juta hati,
Seandainya ia tahu begitu banyak tangis untuknya
Meninggalkan duka dan kehilangan yang sangat besar.
Mungkin Michael Jackson tidak akan merasa kesepian
Ia tetap semangat dan percaya diri dalam hidupnya Continue reading

Ketika Artis Menjadi Anggota Parlemen

Lolos ke Senayan tapi bingung. Itulah reaksi Rieke Dyah Pitaloka, calon anggota legislatif (caleg) dari PDI Perjuangan, ketika terpilih dari daerah pemilihan Jawa Barat II. “Saya pusing ketika tahu lolos pemilihan legislatif,” kata Rieke kepada Birny Birdieni dari Gatra. Continue reading

  • RSS ANTARA News – Berita Terkini

    • Senegal negara Afrika tertinggi dalam peringkat FIFA
      Tim nasional  Senegal menjadi negara Afrika yang memiliki posisi tertinggi pada peringkat FIFA bulan November yang dirilis Kamis waktu setempat, dengan menempati peringkat 23 besar dunia.  Tim berjuluk 'Teranga Lions' ...
    • Aksi Bakpao Mendukung KPK
      Sejumlah pegiat menggelar aksi unjuk rasa bertema bakpao di depan gedung KPK, Jakarta, Jumat (24/11/2017). Mereka mendukung KPK untuk mengusut tuntas kasus korupsi KTP Elektronik yang merugikan negara Rp2,3 triliun. (ANTARA ...
    • SMIIC segera rilis standarisasi halal
      Lembaga standarisasi halal  yang terafiliasi dengan Organisasi Kerja sama Islam (OKI), Institut Standar dan Metrologi untuk Negara-negara Islam (SMIIC), segera merilis standarisasi halal untuk produk kosmetik."Kami akan ...
  • “ISI – PORO”





  • Subscribe in Bloglines


  • RSS Berita IT dan Artikel

  • “B A K A N C I N G”